Sejarah Singkat Sabung Ayam di Indonesia

Panduan Jun 23, 2020

Adu Ayam Jago atau yang biasa dikenal sebagai Sabung Ayam adalah permainan yang sudah terkenal di Kepulauan Nusantara sejak lama. Poin utama di permainan ini adalah perkelahian antara Dua Ayam Jago yang memiliki taji. Taji ini terkadang dibuat dari logam runcing yang diikatkan ke kaki daripada ayam yang ditandingkan. Selain sebagai bentuk hiburan masyarakat, permainan ini juga tidak lepas dari cerita kehidupan sosial, budaya, maupun politik yang ada.

Sejarah Sabung Ayam di Indonesia
Dua Ayam Saling Beradu kekuatan

Dari data yang pernah diambil, hampir 10 juta orang tertarik untuk menjadikan Adu Ayam Jago sebagai bentuk taruhan. Cara bermain yang cukup mudah dan terlihat nyata menjadikan permainan ini digemari banyak kalangan. Rata-rata ayam yang dipertandingkan sampai kabur / menghilang, dan bahkan ada yang dipertandingkan hingga mati.

Sejarah Sabung Ayam di Pulau Jawa
Berdasarkan folklore (cerita rakyat) yang ada, Cindelaras yang mempunyai Ayam Sakti diundang oleh Raja Jenggala, yaitu Raden Putra untuk saling mengadu ayam. Jika ayam Cindelaras keok, maka ia harus bersedia kepalanya dipancung. Namun apabila hasil berbalik, maka setengah dari kekayaan Raden Putra akan menjadi milik Cindelaras. Dari peristiwa ini, kita sudah mengetahui bahwa memang sedari dulu Judi Sabung Ayam merupakan salah satu bentuk permainan harga diri.

Dengan waktu yang sangat singkat, ayam milik Cindelaras berhasil menaklukkan perlawanan ayam Sang Raja. Seluruh penonton bersorak sorai, dan Raden Putra akhirnya mengakui kehebatan ayam lawannya tersebut. Ia juga baru mengetahui kalau Cindelaras ternyata adalah putranya dari salah satu permaisuri yang terbuang karena iri dengki selirnya.

Laga Ayam
Laga Ayam

Permainan Sabung Ayam ini juga menjadi salah satu peristiwa politik yang ada pada masa lampau. Pada hari Budha Manis atau Rabu Legi, Prabu Anusapati dari Singosari mati terbunuh saat menyaksikan pertunjukan Sabung Ayam di Istana.

Dulu ada peraturan dimana siapapun yang masuk ke dalam arena, tidak diperbolehkan membawa senjata. Sebelum Anusapati berangkat ke lapangan permainan, Ibunya Ken Dedes menasehati anaknya agar jangan sampai melepas keris pusaka yang dipakainya jika ingin pergi menonton pertandingan.

Tanpa memperdulikan ucapan ibunya, ditambah dengan desakan dari Pranajaya dan Tohjaya, akhirnya ia melepaskan keris itu dari tubuhnya. Pada saat itu terjadi kekacauan di arena dan akhirnya peristiwa yang ditakutkan Ken Dedes pun terjadi. Kekacauan tersebut merenggut nyawa Anusapati yang dibunuh oleh adiknya sendiri, yaitu Tohjaya menggunakan keris milik Anusapati.

Kemudian jenazah dari Sang Prabu dimakamkan di Candi Penataran dan kisah ini dikenang banyak orang. Silsilah Kerajaan Singasari yang rumit menjadi unsur politik pada sejarah ini. Garis keturunan Anusapati dan Tohjaya memang diriwayatkan suka menyabung ayam.

Berdasarkan cerita rakyat terutama Ciung Wanara mengisahkan bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di Arena Sabung Ayam. Begitu juga dengan nasib Anusapati yang bukan kalah dalam permainan, namun dalam permainan ini malah ia yang terbunuh.

Sejarah Sabung Ayam di Pulau Bali
Di Bali, Sabung Ayam dikenal sebagai tradisi yang disebut Tajen. Tajen berasal dari rubuh rah, salah satu yadnya (upcara) masyarakat Hindu di daerah Bali. Tujuannya sungguh mulia, yaitu ingin mengharmoniskan hubungan manusia dengan Bhuana Agung atau dalam bahasa Indonesia, berarti Alam Semesta.

Yadnya merupakan runtutan dari upacara adat yang menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lainnya. Leher hewan kurban yang telah dipersiapkan akan dipotong setelah dimanterai. Sebelum upacara nyambleh tersebut, akan dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa.

Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan). Ketiga partai ini diantaranya, yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup. Tradisi ini sudah lama, yakni sejak sekitar tahun 1200 semenjak kerajaan Majapahit yang melakukan pelarian ke Bali.

Sabung Ayam Bali
Sabung Ayam Bali

Serupa dengan aktivitas lain masyarakat Bali dalam menjalani ritual, khususnya sehubungan dengan Penguasa Jagad, Tabuh Rah berpedoman pada Dasar Sastra. Tabuh Rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yadnya pun banyak disebut dalam berbagai lontar. Misalnya, dalam lontar Siwa Tattwapurana yang antara lain menyebutkan, dalam Tilem Kesanga. Tilem Kesanga adalah waktu dimana bulan sama sekali tidak tampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali.

Bathara Siwa mengadakan yoga, saat itu kewajiban manusia di bumi memberi persembahan, kemudian diadakan pertarungan ayam dan dilaksanakan Nyepi Sehari. Yang diberi kurban adalah Sang Dasa Kala Bumi, karena jika tidak, celakalah manusia di bumi ini.

Sedangkan dalam lontar Yadnya Prakerti dijelaskan, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci. Misalnya pada Bulan Kesanga patutlah mengadakan pertarungan Ayam Tiga Sehet dengan kelengkapan Upakara. Bukti Tabuh Rah merupakan rangkaian dalam Upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.

Sejarah Sabung Ayam di Pulau Sulawesi
Dalam Kebudayaan Bugis, sejarah Sabung Ayam merupakan pengingat bahkan telah melekat sebagai budaya lama dalam menunjukkan hubungan sosial antar masyarakat. Banyak juga yang menyebut kalau Kultur Bugis sangat kental dengan mitologi ayam. Hingga Raja Gowa XVI, yaitu Sultan Hasanuddin digelari Ayam Jantan dari Timur.

Dahulu orang tidak disebut sebagai pemberani jika tidak memiliki kebiasaan Minum Arak dan Adu Ayam. Untuk mengasosiasikan dengan keberanian itu, biasanya dibandingkan dengan Ayam Jantan paling berani di kampungnya.

Pada tahun 1562, Raja Gowa 10 mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai Tamu Negara. Raja Gowa kemudian mengajak Raja Bone untuk memeriahkan suatu acara dengan Pertunjukan Sabung Ayam. Raja Bone-pun menerima ajakan tersebut, karena ingin pertemuan yang jarang-jarang tersebut semakin ramai.

Sebelumnya mereka telah menjadikan pertandingan tersebut sebagai ajang Taruhan Sabung Ayam termewah kala itu. Raja Gowa mempertaruhan 100 Katie Emas, sedangkan Raja Bone mempertaruhkan segenap Orang Panyula (Satu Kampong). Pertarungan ini sungguh hebat karena dianggap sebagai pertandingan kesaktian dan kharisma antara kedua raja.

Sabung Ayam Toraja
Sabung Ayam Toraja

Singkat cerita, Ayam Sabungan Raja Gowa kalah telak dari miliknya Raja Bone. Kematian Ayam Sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa terpukul malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri oleh Kerajaan Gowa.

Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap kerajaan kecil di sekitarnya. Dampak positifnya, sesudah peristiwa tersebut, banyak kerajaan kecil di sekitar Bone yang menyatakan bergabung dengan atau tanpa tekanan militer. Kerajaan-kerajaan seperti, Ale, Awo, Teko, serta Negeri Tellu Limpoe menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Cara Mendaftar Permainan Sabung Ayam Online S128 / SV388 Resmi Filipina.
Sabung Ayam Online adalah salah satu judi live yang bisa dimainkan dari HP Android atau Iphone anda dengan mudah. Cara Daftar S128 / Daftar SV388 juga tidak sulit, anda bisa konfirmasikan ID resmi anda melalui Customer Service kami yang online 24 jam.

Syarat utama pendaftaran adalah data nama rekening, nomor rekening, dan nomor whatsapp aktif supaya kami bisa memberikan informasi terkait deposit, withdraw, dan promo terbaru kami. Hubungi kami via WA dan daftarkan IDnya di nomor +855 995 660 51

Bonus Winstreak
Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.